Jangankan naik pesawat terbang, aku naik mobil saja kalau duduk di belakang mesti cepat mabuk, sehingga kalau duduk dibelakang aku mesti menghadap ke depan, tidak bisa menghadap ke samping, mesti cepat mabuk, mungkin lebih baik naik becak atau naik dokar kalee.
| Pesawat Bouraq pertamaku jenis Hawker Sideley |
Ketika aku pertama kali bekerja dan harus berangkat ke Palu, Sulawesi Tengah, aku harus naik pesawat terbang, berkali-kali aku lihat tiket itu, warnanya hijau, ada tulisan Bouraq Indonesia, wah.... senangnya aku kalau bisa naik bouraq, ngebayangin waktu Nabi Muhammad saw. mi'raj ke sidhratul muntaha naik bouraq.. wuih senengnya aku.., tapi bagaimana dengan muntahnya itu?...
Aku tanya teman-teman di kantor, gimana sich rasanya naik pesawat terbang, malah ditertawai... "enak lho naik pesawat itu" kata temanku waktu ngobrol, "iya loe enak, tapi aku jangankan naik pesawat terbang, naik mobil aza aku suka muntah", dia bilang "gak usah khawatir, di depan dekat tempat duduk pesawat itu ada kertas untuk muntah, kalau kamu muntah ya masukkan aza ke kertas itu" katanya, "ya dech ntar aku cari kertas itu..".
Aku tanya teman-teman di kantor, gimana sich rasanya naik pesawat terbang, malah ditertawai... "enak lho naik pesawat itu" kata temanku waktu ngobrol, "iya loe enak, tapi aku jangankan naik pesawat terbang, naik mobil aza aku suka muntah", dia bilang "gak usah khawatir, di depan dekat tempat duduk pesawat itu ada kertas untuk muntah, kalau kamu muntah ya masukkan aza ke kertas itu" katanya, "ya dech ntar aku cari kertas itu..".
Nah, ketika hari-H nya aku naik pesawat terbang, begitu masuk kabin, aku langsung cari tuh yang namanya kertas muntah, "ini dia ada satu..." pikirku, aku ambil yang ada di depan, begitu aku duduk lho ternyata di depan tempat dudukku juga ada kertas yang sama.., "sialan pikirku", ngapain aku ambil yang di depan"...., oh mungkin disediakan khusus buat yang mabuk mabuk aza pikirku, aku ambil lagi tuh kertas mabuk itu, jadi tanganku dua-duanya megang dua kertas mabuk, "eh... ngapain loe megangin tuh kertas mabuk..." tanya temanku di sebelah, "ya.. buat jaga-jaga kalau mabuk" jawabku.
Begitu pesawat lepas landas, teruuuus naik ke atas, lho koq aku enggak terasa pingin mabuk-mabuk, "sialan.... koq enak juga yah naik pesawat....".
"Nah, beres aku nggak mabuk lagi aman sudah....", aman pikirku... kemudian datang pramugari nawarin minuman, aku kan bawa duit cuma sedikit, begitu ditawarin minum dan makan aku cuman geleng kepala "nggak mbak, aku sudah makan....", soalnya tidak punya uang buat bayar, gimana nanti bayar taksi lagi.. akhirnya aku pikir lebih baik nolak aza daripada bayar mahal.... aku pengalaman waktu naik kereta api, begitu selesai makan kan ditagih tuh makanannya, di kereta api saja mahal, apalagi di pesawat... huh musti lebih mahal lagi, yang naiknya juga nggak ada mbok-mbok pikirku.
Begitu sudah sampai di lapangan terbang Mutiara di Palu, lho koq nggak ada yang bayar, terus aku tanya temanku (Pak Susanto), "eh.. loe tadi makan di pesawat nggak bayar ya..", dia jawab "lho ya nggak lah, itu kan bagian dari servis, sudah dijadikan satu dengan harga tiket", huh.. lagi-lagi sialan perut sudah keroncongan, ngiler lagi lihat makannya, tahunya gratis dech...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar